Thursday, September 8, 2016

Puisi Untuk Negeri

PUISI UNTUK NEGERI
Oleh Faidul Wizari

Bingung, dengan kalian
Membanting meja, memasang muka murka.
Di depan khalayak; termasuk aku
Adalah kalian tidak tahu malu.

Tega sungguh tega!
Pena; kalian besarkan menjadi pedang
Dan kertas; kalian lebarkan menjadi medan.

Lalu berperang dalam emosi
Saling sikut melain-kan diri.
Bicara kalian palinglah ini;
"Kita 'kan besarkan isi laci".

Sungguh tega sangatlah tega
Ulah kalian membungkam tawa
Tawa kami untuk negeri.
Sebab katanya “perubahan sebentar lagi”.

Adapun kami si jelata ini
Mengaduk tanah bersama basah
Agar tumbuh sesuatu.
Imbangi tumbuhnya duri
Serakan para pencuri.

Adapun kami si jelata ini
Mengayuh perahu ke tengah lautan,
Memasang jaring menangkap ikan
Semoga tiada bangkai kalian.

Adapun kami si jelata ini
Menggiring ternak ke padang terang
Mengharap rumput cepat membesar
Semoga jauh serigala kalian.

Sakitnya si miskin mengorek
Sementara kalian bertambah molek.
Apakah empedu kalian tak pernah di kerongkongan
Sehingga pahit tidak kalian kenal?

Dewan Perwakilan Rakyat!
Kalian mestinya berlaku rahmat
Tapi, ternyata mengundang laknat.
Di halaman 7 untuk negeri
Pena kalian melukai kami.

Sebelum mekar -9 dalam April
Kalian senyam-senyum dengan janji kabir
Hendak membawa kami ke pangkuan negeri
Ah, nyatanya adalah manipulasi.

Dor dor dor!
Kuingin tembak kepala kalian
Untuk melebur ego liar
Agar cinta untuk bangsa
Benar di laku benar di dada.

Tong-kosong berbarisan
Menyanyikan lagu karya nafsu
Di atas panggung sorak-sorakan
Tunggu kami lemparkan batu.

Wahai para putera bangsa
Pemuda seluruhnya pria wanita!
Mari berjejer turun ke jalan
Ajari mereka ketatanegaraan.

Andai kalian tak jua damai
Kami bersiap membuat ramai
Biar jelas antara kita
Siapa Indonesia siapa Belanda?

Lupakah kalian lelahnya moyang
Korbankan jiwa untuk Indonesia?
Apakah kalian tak pernah dengar
Semboyan cengkeraman Garuda?

Dari Sabang hingga Merauke
Kami tak ingin ada yang tercerai.
Namun, jika tiada ujung kalian bertikai
Tidaklah mungkin bersatu damai.

Kemarilah, wahai para pendekar!
Bersama; kita bangun padepokan
Rumah menghimpun kekuatan
Untuk memerangi politik makar.

Lihatlah Papua dari sejarah
Ketika OPM berdiri memanah.
Apakah kalian begitu saja
Walau bendera lain nampakkan muka?

Ingatkah kalian GAM yang kasar?
Jangan kira ditelan bumi.
Jika kalian hanya bersandar
Negeri ini dikebiri.

Wahai Presiden dan para Menteri!
Kalian adalah kereta kami.
Hantarkan kami ke gerbang besar
Tempat berkumpul emas dan intan.

Wahai Presiden dan para Menteri!
Kalian adalah pelayan-pelayan kami.
Dan apa yang telah negeri berikan
Kamilah yang diutamakan.

Kini Tuan bertugas besar
Tapi, jangan memandang diri besar.
Sebab sejati di dalam itu
Bagus di hati bagus di laku.

Kemarilah kuberi tahu
Bahwa kekuasaan itu amanat!
Andai nanti Tuan tak mampu
Lekaslah minggat.

Ini ketegasan!
Dari hati yang rindukan menang.
Karena menang adalah mampu membangun
Dan menjaga untuk anak-turun.

Lestari hutan dan lautan
Lestari gunung dan sungai
Lestari isi bumi
“Sahabat penghuni negeri”.

Telah kita lalui sejarah dijajah
Tiga-setengah abad kita terbelah.
Dan sejak kemerdekaan datang
Janganlah kita mengulang tumbang!

Pemimpin tampil berganti-ganti;
Soekarno, Soeharto dan Habibi.
Gusdur, Megawati dan Yudhoyono.
Dan sekarang Joko Widodo!

Wahai warga bangsa seluruh Indonesia!
Di Arab lihatlah perang-saudara!
Dan jika perbedaan adalah permusuhan
Malapetaka dari senjata menjelang.

Tiba waktunya kita bangkit
Seperti pohon yang tumbuh di bukit
Akar ke dalam menancap tajam
Batang menjulang menyambut sinar.

Lihatlah dari tempat yang tinggi!
Dari hely yang merobek sunyi
"Negeri ini taman surgawi".
Air dan isinya
Tanah dan isinya
Adalah bukti bahwa kita kaya.

Barisan pulau yang hijau
Dan pantai yang terbentang berkilau
Alamat besar tempat kita
Indonesia adalah pusaka.

Wahai Tuan-tuan di kursi titipan!
Bisakah Tuan-tuan tak cinta jabatan?
Sebab cinta, berarti; tak mau melepaskan.

Kami sudah lelah jadi penonton
Mendongakkan muka; melihat mereka yang sombong.
Merasa memiliki sendiri
Adalah sebab terjadinya korupsi.

Dua bulan terakhir di tahun-ini
Sejak 20 dalam Oktober.
Mari semua mengangkat duri
Agar hilang dendam yang angker!

Berbarislah rapat-rapat
Seperti shaf ketika shalat
Semoga kita mendapat rahmat.

Dan jika belum padam api pemilu
Sebab kerenggangan sejauh penjuru.
Maka, biarlah kami yang maju.
Sebab sebuah permulaan;
Jika terbakar api dendam
Sia-sialah pemerintahan.

Luka bakar yang dulu ada
Karena ledakan bom media.
Sudahlah, lupakan saja!

Hidup hanya sebentar
Dan maut menunggu di depan.
Berdamailah karena Tuhan!
Bukan agar semakin kaya,
Atau agar bertambah kuasa,
Atau agar dipandang mulia,
Atau agar diliput Media.
Bukan, bukan, bukan!

Bukan cinta rakyat yang tuan dapatkan
Atau kehormatan dari tangan kanan.
Malah pedang-pedang terhunus dari diam
Jika tuan tetap saling silang.

Bocah-bocah di bawah kolong
Tariklah mereka agar tertolong
Agar bersama yang lain
Mengejar cita dengan mahir.

Para pengemis di tepi jalan
Bimbinglah mereka ke masa depan!
Ke tempat cerah yang merekah
Mengais rizki yang penuh berkah.
____

Para petani di tempat kering
Bangunkan untuk mereka wadah air
Biar tumbuh bebijian
Mengisi perut yang sering lapar!

Para Pekerja di luar negeri
Terhadap mereka; jangan tuan menutup diri!
Berikan perlindungan harga diri
Agar tidak di bawah kaki.

Para Sarjana yang mencari kerja,
Mohon tuan bukakan sarana
Agar tidak sia-sia
Ijazah yang mereka punya.

Para Pemuda yang pengangguran,
Mohan tuan berikan arahan!
Bawalah mereka untuk mengisi
Pekerjaan untuk menuai rizki.

Tuan-tuan adalah tokoh
Pastilah tuan tidak bodoh
Pasti berpikir untuk negeri
Dan bekerja sejujur hati.

Kami senang tuan tertawa
Asal bukan maksud menghina.
Kami mendengar tuan dari televisi
Bicara tentang masa depan negeri.

Tapi, ingatlah tuan, bahwa lidah
Mudah bergerak tak kenal lelah.
Jika Tuan lupakan langkah
Berarti tuan memilih kalah.

Tuan, lihatlah samudera kita!
Terbentang luas bagai tak bertepi
Jika tuan mencuri harta negara
Tunggulah kerasnya gelombang Tsunami.

Takutlah tuan kepada Tuhan!
Dia tahu seluruh perbuatan
Jika tuan bermain curang
Neraka adalah tempat tinggal.

Indonesia beragam warna muka
Suku, Budaya dan Bahasa.
Jika tuan tak berlaku sama
Berarti tuan merobek cinta.

Ada dua ratus lima puluh juta
Seluruh penduduk Indonesia.
Bila tuan tak mampu menggendong
Berarti tuan telah berbohong.

Pikiran tuan harus besar
Sebesar negara tempat tinggal.
Jika tuan mengambil kebijakan
Haruslah diisi kebajikan!

Tahun ini panasnya lama
Oleh sebab dosa manusia.
Jika tuan ingin selamat
Agama haruslah dekat.

Jakarta adalah kota induk
Banjir dan kebakaran mengaduk-aduk.
Jika Tuan inginkan aman
Rapikan dulu tempat sekitar.

Jawa; tempat yang paling padat
Terobosan tuan haruslah cermat
Memandu mereka memilih tempat
Agar urusan tak tambah berat!

Kalimantan, Sumatera dan Papua
Tempat-tempat yang sangat kaya.
Jika Tuan mahir dan bijaksana
Pastilah sejahtera rakyat Indonesia.

Waktu berlalu begitu cepat
Janganlah Tuan bekerja lambat!
Tekhnologi berkembang begitu pesat.
Sekarang seluruhnya bisa kilat.

Ingatlah tuan asal tuan!
Dari air-hina yang dipancarkan.
Tak patut Tuan busungkan dada
Sebab ini masih dunia!

Tuan mesti lihat desa-desa!
Bertani, beternak ciri mereka.
Petani adalah sahabat kehidupan
Sebab mereka memberi kelangsungan.

Aturlah mereka yang membangun pabrik
Agar mereka tak bermain licik.
Tak jarang terjadi pejabat dan pengusaha
Bekerjasama rugikan negara.

Pajak bumi dan bangunan
Kami hantar kami salurkan.
Tapi, sadarlah tuan bahwa kami
Adalah orang-orang pribumi
Tuan harus angkat duri-duri!

Telinga tuan haruslah dalam
Agar mampu mendengar jeritan!
Bahwa kami banyak sekali
Makan hari ini, tidak esok hari.

Mata Tuan haruslah tajam
Agar mampu melihat keasingan.
Bahwa kami banyak sekali
Bekerja; sekedar untuk dapat nasi.

Akal tuan haruslah pintar
Agar mampu berpikir cemerlang
Karena kami banyak sekali
Ditimpa kesulitan setiap hari!

Hati tuan haruslah lapang
Agar benar menimbang aturan
Karena kami banyak sekali
Kesulitan mencari solusi!

Andai tuan inginkan panjang;
Masa jabatan tuan sekarang.
Kami bantu, kami mau
Asal tuan pandai memandu.

Janganlah Tuan mudah terayu
Oleh mereka yang datang bertamu
Sebab jika terus begitu
Kita sering terkena tipu.

Ketika tuan menjalin kerja
Antar bangsa dalam dunia
Pandai-pandailah Tuan membaca
Perkembangan setiap masa!

Jika tuan hendak bercermin
Bacalah sejarah pemimpin adil
Sebab bercermin di air bening
Sangatlah jelas; walau noda kecil!

Suatu bangsa adalah Bahtera
Dan tuan adalah Nakhoda
Jika gelombang datang menerjang
Tuan harus mampu bertahan!

Tentulah kami sangat kecewa
Jika tuan layaknya kuda.
Berlari; tapi, ditunggangi,
Tuan harus bisa mandiri!

Para tentara di perbatasan
Mereka harus diperhatikan
Jika tidak demikian
Garis-garis kita akan hilang!

Para aparat penegak hukum
Tetaplah kalian di bawah payung!
Kalian harus menjadi petarung
Membela yang benar tanpa berhitung.

Bermacam tragedi karya manusia
Dalam Politik, Sosial, Budaya.
Ketika tuan melihat seteru
Alangkah baik tak pandang bulu!

Himbaulah para ketua partai
Agar jangan mengundang badai.
Jika mereka bercerai-berai
Tentunya pemerintahan seperti digadai.

Ketahuilah tuan bahwa negara
Harus berdiri dengan kaki sendiri.
Jika tiada daya upaya
Kita terjajah sekali lagi.

Hasil bumi negeri sendiri
Harus dijaga dengan berani.
Jika Asing datang mencuri
Berikanlah sangsi yang tinggi.

Sudah lama kami bekerja
Menjadi kuli di tanah sendiri.
Di dalam negeri ini
Orang Asing memperkaya diri.

Dan ketika kami keluar
Sama saja bagai terdampar.
Kami bekerja membanting tulang
Menjadi asuhan orang-beruang.

Dasar negara kita adalah Pancasila
Para pendiri sepakat bersama.
Tuan harus bisa menjaga
Sebab pondasi adalah yang utama.

Undang-Undang Dasar tahun 45
Hukum utama dalam berbangsa.
Dan Tuanlah yang utama
Membagi itu kepada semua.

Bukalah untuk kami sebuah jalan
Untuk menuju kesejahteraan!
Kekurangan yang membelit kami
Adalah luka seribu duri.

Manakala nanti kita besar
Walau itu hanya harapan.
Tuan mesti pandai menyimpan
Kekayaan negeri untuk kelangsungan!

Pandai-pandailah tuan membaca
Sejarah Indonesia sebelumnya.
Di mana saja titik-titik luka
Tuan carikan penawarnya!

Kami sudah bosan mengingat janji
Karena seringkali diingkari.
Jika Tuan inginkan aman
Bekerjalah dengan iman.

Kepada mereka yang dilanda bencana
Tanggaplah tuan menggendong mereka.
Salurkan obat dan makanan
Untuk mereka yang kehilangan.

Pemimpin harus berjiwa kabir
Membangun bangsa agar tumbuh adil
Agar dirasa oleh semua
Negara kita adalah surga!

Untuk seluruh penduduk negeri
Bekerjalah tuan sepenuh hati.
Ketika uang bersama syetan
Hendaklah tuan mengingat Tuhan.

Tuan harus perangi korupsi
Karena itulah kecelakaan negeri.
Jika memang begitu parah
Hukum mati itu indah.

Andai Tuan mampu adakan
Terbang ke langit menginjak bulan.
Maka, tak patut lagi diragukan
Kekuatan kita di banyak bidang.

Ekonomi-Nasional tolong selamatkan
Dengan Sumber Daya Alam.
Tuan juga harus ketahui
Sumber Daya Manusia mestilah tinggi.

Kami menunggu dari kejauhan
Uluran tangan dari kursi besar.
Maksud kami bukan pemberian
Tapi, sesungguhnya adalah kemajuan.

Indonesia sebenarnya tak patut miskin
Tapi, akal kita begitu kecil.
Maka, tak pantas tuan biarkan
Generasi kita haruslah pintar!

Di antara tanah dan air kita
Benih-benih tumbuh dengan segera.
Inilah syurga di dunia!

Air beriak tanda tak dalam,
Tuan jangan dengarkan yang tak mau diam!
Sabar dan berjuang, itulah yang benar!

Suatu saat tuan ‘kan tuai
Buah pengorbanan dalam nilai.
Tentu kami akan mengenang
Pun generasi yang kemudian.

Semoga bertambah kekuatan tuan
Di dalam jiwa di dalam badan.
Agar bersih pikiran tuan
Sehingga bersih pemerintahan.

Bersenanglah tuan tiada yang larang
Dengan terpuji dalam aturan.
Kepada rakyat tetaplah ingat
Karena mereka adalah amanat.

Aku berkorban menulis ini
Memacu keluar imajinasi,
Memaksa akal menyelami kehidupan
Menerawang kedalaman kenyataan hitam.

Bahwa tanggal satu di bulan sebelas
Kutuntun jemari dengan cerdas.
Dan empat hari kemudian
Jadilah puisi yang sangat panjang.

Semoga Tuan membaca ini!
Aku berpesan dalam Puisi
Bahwa Tuan harus begini
Untuk kebaikan sebuah negeri!

Jangan tuan marah padaku
Andai puisiku pahit empedu!
Dengan jujur kutulis ini
Untuk mengangkat suara hati.

source: www.lokerpuisi.web.id



Puisi Untuk Negeri Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Nightcore FonFitra

0 komentar:

Post a Comment